Motor MotoGP Yamaha Paling Pelan Kenapa Justru Banyak Masalah dengan Pengereman

Posted on

Motor MotoGP Yamaha Paling Pelan Kenapa Justru Banyak Masalah dengan Pengereman – Motor YZR-M1 kepunyaan Yamaha jadi motor dengan top speed paling rendah di MotoGP Styria. Kalau sulit ngebut, kenapa justru rem mereka yang paling bermasalah. Puncak masalah pengereman pada motor-motor Yamaha di MotoGP Styria tentu saja dialami Maverick Vinales.

Motor MotoGP Yamaha Paling Pelan Kenapa Justru Banyak Masalah dengan Pengereman

Motor MotoGP Yamaha Paling Pelan Kenapa Justru Banyak Masalah dengan Pengereman

Dia sampai harus lompat dari motornya yang tiba-tiba mengalami rem blong usai digeber di lintasan lurus dan akan masuk tikungan pertama. Vinales bukan satu-satunya penunggang Yamaha yang bermasalah dengan sistem pengereman. Valentino Rossi memgaku mengalami masalah yang sama, bahkan sejak MotoGP Austria yang dihelat sepekan sebelumnya. Fabio Quartararo, yang berjaya pada dua balapan di Jerez, juga tak bisa berbuat banyak di Red Bull Ring.

Trek paling cepat di sepanjang musim MotoGP 2020. Saat turun di MotoGP Austria, rider asal Prancis ini sempat nyelonong di tikungan empat di tengah balapan. Hal mana membuat dia merosot ke posisi paling belakang dan berujung pada kegagalan dapat hasil bagus, bahkan setelah balapan sempat dihentikan akibat kecelakaan Johann Zarco dan Franco Morbidelli.

Ini sesuatu yang tak pernah saya alami sebelumnya di karier saya. Motornya terasa fantastis di lap-lap awal – tapi tak ada top speed – lalu saya mulai merasakan kehilangan tekanan pada rem depan. Saya sempat keluar lintasan, menjalani tiga lap yang lambat, lalu mencoba menekan lagi, lalu kembali kehilangan tekanan (rem depan). Kemudian remnya bagus lagi, jadi saya bisa membayar kehilangan waktu. Tapi tiba-tiba remnya hilang, kanvas (rem) hilang.

Saya tahu saat itu kalau remnya sudah tidak ada, lalu memutuskan lompat

Papar Vinales usai balapan. Data balapan MotoGP Styria menunjukkan kalau Yamaha jadi motor paling pelan di atas lintasan. Pebalap Yamaha dengan top speed tertinggi pada race pertama (sebelum red f;ag berkibar) adalah Vinales di 309,4 km/jam. Dengan angka itu, Vinales cuma ada di posisi 17 pebalap dengan catatan waktu tercepat. Kalah jauh dari Andrea Dovizioso yang ada di posisi teratas dengan top speed 314,8 km/jam.

Pada race kedua (setelah kecelakaan) kondisinya lebih buruk lagi. Tiga pebalap tersisa Yamaha mengisi empat posisi paling bawah daftar top speed. Quartararo di urutan 18 (310,3 km/jam), Rossi di urutan 19 (310,3 km/jam), lalu Franco Morbidelli di posisi 20 (309,4 km/jam). Ketiganya cuma unggul atas Iker Lecuona (KTM, 309,4 km/jam) pada posisi paling buncit. Yamaha kalah jauh, lagi-lagi, dari Doviziozo yang top speed-nya sampai 320,4 km/jam dan berada di posisi teratas pada race ke-2.

Mat Oxley, dalam kolomnya di motorsportmagazine, menjelaskan fenomena yang dialami Yamaha. Disebutnya, motor dengan kecepatan tinggi akan memasuki tikungan dan melakukan pengereman dengan lebih tenang dan terkontrol. Karena mereka tahu mereka akan bisa memaksimalkan power yang dipunya mesinnya untuk melesat di trek lurus. Sementara motor yang lambat akan berupaya melakukan pengereman setelat mungkin.

Pebalap dengan motor yang lambat akan berupaya sebisa mungkin membayar kekalahan waktu di trek lurus

Artinya mereka akan melakukan pengereman secara agresif, yang kemudian membuat sistem pengereman bekerja lebih keras. Saat menjalani latihan bebas atau warm-up, masalah pengereman Yamaha tidak terlalu terekspos. Namun di balapan situasinya beda. Saat race dimulai, pebalap menghadapi tekanan berbeda, sistem pengereman juga bekerja lebih keras karena digunakan untuk durasi lebih panjang.

Tidak bisa dilupakan juga kalau saat balapan motor tidak mendapatkan angin yang cukup (untuk mendinginkan sistem pengereman) karena kerap berada di belakang rider lain. Saat sistem pengereman melebihi batas suhu toleransi (sekitar 1.000 derajat celcius), karbon yang jadi material utama rem mulai teroksidasi, cakram dan kanvas rem tergerus jauh lebih cepat, dan pada akhirnya perlahan rontok. Kondisi ini kemudian diperparah oleh manajemen yang buruk dalam pemilihan spesifikasi rem oleh Yamah.

Vinales, seperti diklaim oleh Brembo (pemasok rem motor MotoGP), tidak menggunakan spesifikasi rem yang disarankan, yang sesuai dengan karakter cepat Red Bull Ring. Vinales diketahui memakai caliper rem standar tahun 2019 di MotoGP Styria. Dia memilih setelan itu karena merasa tidak ada masalah saat menjalani sesi latihan. Padahal Rossi dan Morbidelli, dan Quartararo memakai caliper 2020 di MotoGP Styria (setelah keduanya juga memakai caliper standar 2019 di MotoGP Asutria).

Untuk diketahui, masalah pengereman juga dialami rider-rider lain, termasuk Dovizioso yang punya top speed tertinggi pada balapan kemarin. Brembo pun mengakui kalau layout Red Bull Ring sangat menyiksa sistem pengereman buatan mereka. Masalah pengereman mungkin masih akan membayangi Yamaha di beberapa seri selanjutnya. Tapi mereka setidaknya bisa sedikit tenang karena di musim tersisa tinggal MotoGP Barcelona yang punya karakter ‘extreme braking circuit’.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *